Pulau Sempu, Segara Anakan dan Pantai Barubaru

Pulau Sempu terletak di Malang selatan Jawa Timur, tepatnya di pantai laut selatan. Untuk menuju ke sana kita harus ke Pantai Sendang Biru yang sudah saya ceritakan sebelumnya di https://rodadanroti.wordpress.com/2014/07/29/pantai-sendang-biru-goa-cina-bajul-mati/

Mungkin masih ada yg belum jelas hubungan antara Sendang biru, Pulau Sempu, Segara Anakan dan Pantai Barubaru. Mungkin bisa saya jelaskan bahwa pantai Sendang Biru terletak diantara Pulau Jawa dengan Pulau Sempu, sedangkan Pulau Sempu sendiri adalah pulau kecil dimana luasnya hanya sekitar 877 hektar yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Sedangkan Segara Anakan adalah sebuah laguna / ceruk danau yang dikelilingi oleh karang di Pulau Sempu yang pemandangannya luar biasa, begitu juga dengan pantai Barubaru.

Peta Pulau Sempu

Untuk menuju ke segara anakan kita harus naik kapal dahulu dan meminta ijin di kantor perhutani Pulau Sempu karena pulau Sempu sendiri sebenarnya adalah cagar alam, selain itu juga diwajibkan didampingi oleh seorang guide untuk menghindari kita tersesat di tengah hutan, sebenarnya mungkin bisa tanpa guide tapi demi keamanan kita sendiri tidak disarankan. Setelah sebelumnya membeli bekal nasi bungkus dan minum, kami segera menuju ke pantai tempat kapal bersandar. Biaya naik kapal pp 100rb / kapal isi maksimal 10 orang dengan fee guide 100rb kalau hanya ke segara anakan tetapi kalau segara anakan dan pantai barubaru fee guide menjadi 150rb. Untuk ijin perhutani kita harus bayar sekitar 30rb per kelompok.

Pukul 9.30 kita sudah tiba di dermaga sendang biru dan setelah mengurus perijinan dan lain-lain pukul 10 tepat kita berangkat. Dari dermaga  menuju pulau Sempu cuma memakan waktu sekitar 10-15 menit saja, ada ceruk kecil di pulau Sempu yang dibuat sebagai pintu masuk perahu berlabuh, namanya teluk semut.

Teluk Semut, pintu gerbang pulau Sempu

Jangan lupa untuk meminta nomer HP tukang perahu karena pada saat kita pulang nanti kita harus telpon si bapak untuk minta jemput. Berhubung teluk semut sangat landai jadi kapal tidak bisa mendarat di langsung dipantai jadi kita harus turun beberapa meter dari bibir pantai, bagi yang pake sepatu dan celana panjang harus siap-siap berbasah ria. Dari teluk Semut ini kita harus berjalan menyusuri hutan menuju ke Segara Anakan. Untungnya pada saat kita pergi sudah musim kemarau jadi jalan yang dilalui tidak becek, selama perjalanan bisa kelihatan sisa-sisa lumpur yang mengering menjadi satu dengan akar-akar pohon yang saling bersilangan. Bisa dibayangkan bagaimana bila musim hujan jalan ini digunakan, pasti sangat licin dan berlumpur.

Beberapa halangan berupa pohon tumbang

Perjalanan membelah hutan dilalui selama 1,5 jam. Untunglah cuaca dan kondisi hutan sangat mendukung karena kami membawa anak kecil dan orang tua yang sudah berusia 80 tahun 😀 Kondisi jalan yang terdiri dari lumpur padat mengering sangat menguntungkan karena dibeberapa tempat terlihat bekas jejak-jejak kaki yang bisa dibuat pijakan seperti anak tangga. Tantangannya tidak hanya itu, selain harus menghindari akar yang berselimpangan dan beberapa tanjakan, juga dibeberapa tempat ada pohon tumbang sehingga kita harus masuk berjongkok jalan dibawahnya, juga sesekali ada batu karang yang menjorok atau dahan setinggi kepala sehingga kita harus membungkuk untuk menghindarinya. Meski cuaca panas tetapi karena rimbunnya hutan yang sangat lebat teriknya matahari tidak terasa bahkan dibeberapa tempat sedikit gelap.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, tantangan terakhir adalah berjalan menyusuri jalan setapak dimana disisi kiri adalah lereng bukit dan disisi lainnya adalah laut sehingga kadang bila kita bersalipan dengan kelompok yang akan pulang harus bergantian karena jalannya sangat kecil. Dari jalan setapak ini keindahan Segara anakan sudah mulai terlihat.

Jalan setapak di lereng pulau dengan latar belakang karang bolong

Pukul 12 kurang kita akhirnya sampai juga ke segara anakan. Setelah turun ke pantai teriknya matahari mulai terasa, jadi kami mencari tempat di bawah pohon untuk menempatkan alas duduk dan membuka bekal makan siang. Ada beberapa tenda yang berdiri disana, rupanya mereka berkemah dan sudah ada disana 1 hari sebelumnya. Saya lihat tidak terlalu banyak sampah bahkan bisa dibilang bersih dari sampah, rupanya kesadaran pecinta alam disini masih terjaga sehingga sampah yang dihasilkan dibawa pulang lagi dan tidak ditinggal begitu saja.

Dari pantai tempat kita berteduh kelihatan jelas karang yang berjejer membentuk sebuah tembok alami  mengelilingi laguna membentengi pantai sehingga ganasnya ombak pantai selatan tidak bisa mencapai pantai, dimana di tengah tembok karang tersebut  terdapat sebuah lubang bundar yang cukup besar sehingga ombak besar dari pantai selatan dapat masuk kedalam laguna menciptakan pemandangan yang indah.

Indahnya panorama Segara Anakan

Hijaunya air laut, putihnya pasir dan landainya pantai sangat menggoda untuk didiamkan. Anak-anak segera berenang menikmati segarnya air laut. Saya sendiri mencoba untuk naik ke tebing yang lebih tinggi disisi lainnya. Untuk naik ke tebing ini harus memakai sandal atau sepatu karena karangnya sangat tajam dan berongga. Dari atas tebing terlihat luasnya Samudra Hindia. Sesekali ombak besar menghantam tebing sehingga air laut bercipratan diatas tebing tempat kita naik, padahal tebing yang kita pijak sekitar 30 meter dari permukaan laut.

Pemandangan laut pantai selatan dibalik tembok karang

Segara Anakan dilihat dari atas tebing tembok karang

Sekitar pukul 14 kita bersiap untuk meninggalkan segara anakan untuk kembali ke sendang biru, tetapi sebelumnya mampir dahulu di pantai barubaru. Jalan yang dilalui sama seperti jalan pergi tadi tetapi sebelum sampai di teluk semut kita belok ke kiri untuk menuju pantai barubaru. Karena pantai ini belum banyak dikenal orang maka yang berkunjung ke sini hanya sedikit. Pada saat kita kesana tidak terlihat ada pengunjung lain, hanya sebelum sampai kita sempat berpapasan dengan 1 kelompok saja.

Pemandangan Pantai Barubaru

Pemandangannya cukup unik, karena didepan kita adalah laut lepas dengan ombak yang cukup besar tetapi mempunyai pantai yang berpasir putih. Disisi belakang terdapat tebing/gunung yang sangat hijau, sehingga pantai ini benar-benar seperti hidden beach/ private beach. betul-betul pantai pribadi karena hanya kami sendiri yang ada di sana.

Cukup 30 menit saja kami disana, setelah puas berfoto-fotoan dan istirahat perjalanan pulang kami lanjutkan. Sampai di teluk semut kembali sekitar pukul 16 lebih, ternyata air laut sudah sangat surut berbeda dengan pada saat pergi tadi sehingga untuk mencapai perahu kita harus jalan sampai ke tengah laut. Beberapa kali selama perjalanan kita menjumpai monyet. tetapi monyet disini tidak terlalu agresif dan justru takut dengan manusia sehingga kita tidak perlu takut.

Teluk Semut yang sedang surut menyebabkan perahu tidak bisa merapat

Saran dan Tips:

  • Sekedar info bahwa kapal hanya mau menjemput hingga pukul 17 saja. Jadi bila kita terlambat akan ada ekstra fee yang diminta tukang perahu.
  • Sebaiknya sebelum berangkat kita sudah booking perahu dan guide sehingga pada saat disana kita tidak direpotkan dengan berbagai birokrasi dan antrian yang ada. Toh harga juga sama antara booking dan go show. Saya iseng-iseng mencoba bertanya melalui kantor resmi, pada saat disana, ternyata guide harus antri dan tidak bisa tersedia secara cepat bila pengunjung ramai.
  • Jangan ke pulau Sempu bila musim hujan karena jalan sangat licin dan membutuhkan perjuangan ekstra. Sangat membuang waktu.
  • Usahakan sepagi mungkin sampai di sendang biru karena kalau kesiangan berarti waktu rekreasi anda juga akan terpotong sia-sia.
  • Bawalah bekal makan siang dan minum secukupnya karena disana tidak ada penjual makanan minuman, bawalah sampah anda kembali untuk membantu melestarikan alam dan agar pengunjung berikutnya pun dapat menikmati indahnya alam seperti pada saat anda mengalaminya.
  • Follow Instagram kami di RodaDanRoti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s