3. Dadong Beach, Deer Looking Back Sculpture, Yetian Minority Nationality Village – Hainan

Memasuki hari ke tiga di Sanya, kami harus angkat koper karena nanti malam bakal pindah hotel ke RoEasy Hospitality Hotel (bintang 5) yang ada di kota Lingshui.

Hari ini tujuan pertama adalah toko wajib Bamboo Charcoal Shoping yang menjual berbagai macam alat kesehatan yang berasal dari bambu pilihan, dimana ada termos yang bisa membuat air menjadi sehat, baju dalam anti lembab, tisu super yang bisa sangat bersih dan banyak lagi lainnya sampai lupa ada apa aja 😀

Suasana di Bamboo Charcoal Shop, bisa coba sekalian

Dari Bamboo Charcoal Shoping kami lanjut ke Dadong beach (baca: tatong beach). Meski ini sudah hari ke tiga tapi sisa-sisa badai di Dadong Beach masih terlihat cukup jelas. Dadong beach ini masih lebih bagus daripada Yalong Beach, karena bentuk garis pantainya yang melengkung seperti teluk sehingga tampak ujung garis pantainya dikejauhan.

Dadong Bay

Di Dadong Beach juga lebih banyak cafe disekitaran pantai. Kalo ke sini jangan lupa bisa coba minuman unik, yaitu kelapa muda yang dah dikeluarkan airnya kemudian diisi oleh puding dan jelly, harganya 35 yuan. Kami sih taunya dari si Enrico, leader kami yang selalu punya banyak masukkan dan inisiatif.

Coconut Jelly, kelapa muda diisi puding dan jelly

Dari Dadong beach kami makan siang dahulu disekitar situ untuk selanjutnya menuju ke tujuan ke tiga dihari ini yaitu Deer Looking Back Sculpture. Sekali lagi kami lebih beruntung dari orang lain, karena kami menggunakan fasilitas tour yang sudah tersedia, dimana yang lain pada jalan kaki dan kami naik mobil untuk bisa tiba di tiga perempat perjalanan, sehingga lebih cepat dan menghemat tenaga.

Deer Looking Back Sculpture lumayan hemat tenaga dengan naik mobil

Deer Looking Back Sculpture ini sebenarnya merupakan sebuah legenda di Sanya dimana ceritanya dahulu kala terdapat seorang kaisar yang lalim. Kaisar ini memerintahkan seorang pemburu muda untuk mencari sebuah tanduk rusa yang sempurna. Nah ditengah perburuan itu pemuda ini melihat seekor rusa betina yang sedang dikejar oleh macan kumbang. Pemburu ini segera memanah macan kumbang dan berganti dia yang mengejar rusa betina tersebut. Perburuan ini konon berlangsung selama sembilan hari sembilan malam hingga pada akhirnya rusa betina itu tiba di sebuah tebing yang curam dan tidak bisa meloloskan diri lagi. Karena sudah terdesak maka rusa betina itu akhirnya menoleh ke belakang menatap si pemburu muda tersebut dan menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Cerita selanjutnya udah bisa ketebak deh, mereka akhirnya menikah dan mempunyai keturunan dimana pada akhirnya si pemburu itu kembali ke tempat si kaisar lalim itu dan membunuh si kaisar. Di tempat inilah konon si rusa betina itu terjebak.

Dari lokasi Deer Looking Back Sculpture yang cukup tinggi kami dapat melihat kota Sanya dan Phoenix Island dari kejauhan. Phoenix Island ini sendiri merupakan pulau buatan yang terbagi menjadi dua bagian, dimana salah satu sisi menjadi pusat wisata kelas atas yang terdapat hotel bintang tujuh (gimana rasanya ya bermalam di hotel bintang tujuh? Mikirin aja sampe harus minum puyer bintang tujuh 😀 ) dan sisi satunya digunakan oleh tentara china sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal perang.

Phoenix Island diambil dari puncak Deer Looking Back Sculpture

Kembali ke cerita awal, setelah turun dari mobil yang membawa kami ke atas bukit, kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit lagi menuju puncak bukit. Tetapi disepanjang jalan terdapat beberapa toko souvenir, topi, minuman dan spot untuk melihat kota Sanya dari atas.

Monumen Deer Looking Back Sculpture ini terdiri dari dua sisi yang berbeda dimana awalnya kami hanya melihat patung rusa dan wanita cantik, tetapi setelah kami berjalan ke sisi satunya barulah kami melihat ada patung si pemuda. Jadi jangan sampai lupa untuk melihat  monumen ini dari ke dua sisi ya.

Deer Looking Back Sculpture dilihat dari 2 sisi, foto kiri patung pria foto kanan patung wanita

Di sini juga ada foto dengan burung kakak tua dengan tambahan biaya, cuma saya tidak tanya karena di batu, malang juga banyak sih hehe.

Sekitar pukul 16:00 waktu setempat kami udah cabut dari Deer Looking Back Sculpture ini untuk lanjut ke destinasi terakhir di hari ini yaitu Yetian Minority Nationality Village.

Yetian Minority Nationality Village ini adalah kampung asli suku Li dan Miao dimana sekarang suku Li dan Miao menjadi suku minoritas disini. Suku Li kebanyakan membangun perkampungan disekitar aliran sungai dan membangun rumah dari bahan bambu agar udaranya sejuk, suku Li suka memakai baju berwarna hitam-hitam sedangkan suku Miao suka menggunakan baju yang berwarna warni.

Dari pengamatan saya sih suku Li ini mirip banget dengan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Sama-sama suka pake baju warna hitam, yang laki sama-sama suka pake tatto dengan tinta dari tumbuhan dan wanitanya suka menenun.

Pukul 17 waktu setempat kami tiba di Yetian Minority Nationality Village ini. Tampak bangunan besar berwarna hitam yang terbuat dari kayu dengan hiasan lukisan bercorak model dayak. Pada gerbang atas tertulis Ye Tian Gu Zhai. Begitu masuk kami disambut oleh seorang ibu dari suku Li yang duduk di tepi pintu dan sedang menenun, kok saya jadi inget dengan desa adat sade di lombok ya 😀

Yetian Minority Nationality Village

Setelah berfoto dengan beliau kami masuk kedalam ruangan yang berisikan semacam museum yang menceriterakan sejarah dan adat istiadat suku Li dan Miao, terdapat diorama bentuk perabot rumah, perhiasan, pakaian adat, topeng dan perkakas sehari-hari. Keluar dari musem kami kembali berada di sebuah pelataran rumah.

Untuk melanjutkan ke rumah berikutnya ternyata kami dihadang oleh 2 orang ibu dari suku Miao yang membawa semacam bambu portal yang dililit kain berwarna merah sehingga kami tidak bisa masuk kedalam. Agar kami bisa masuk syaratnya harus menyanyikan sebuah lagu, terserah sih lagu apa aja yang penting lagu, daaaannnn kami memilih lagu bintang kecil 😀 entah siapa sih yang mulai bernyanyi 😀 😀 Akhirnya portal dibuka dan kami diperbolehkan masuk ke dalam.

Kami menyanyi dulu baru bisa masuk

Setelah masuk, ternyata di pintu keluar kami disambut oleh 2 orang wanita dari suku Miao di kiri kanan  pintu dan daun telinga kami dipegang hehehe. Itulah keunikan dari suku Miao, sambutan mereka bukan berjabatan tangan tetapi memegang daun telinga. Nah disini kita difoto dan hasil fotonya nanti di pintu keluar bisa kita beli seharga RMB 20 bila berminat.

Ucapan selamat datang suku Miao dengan memegang telinga

Setelah berfoto kami kembali berada di sebuah lapangan kecil dimana terdapat berbagai macam gubug mini tempat suku Li dan Miao bekerja. Kami bisa berfoto dengan menggunakan topi khas mereka yang terbuat dari anyaman rotan. Pada rute selanjutnya kita harus cepat karena hanya terdapat 3 gelas suguhan arak tradisional yang disiapkan bagi setiap rombongan (mungkin banyak juga tuh dari grup saya yang ngga tau hehe).

Foto dengan topi rotan, minum arak dan koleksi tengkorak kerbau

Keluar dari sini kami disambut dengan koleksi tengkorak kepala kerbau yang berjajar digantung di rak bambu. Ternyata suku Li juga mahir dalam pembuatan kerajinan perak, hal ini terlihat pada area terakhir dimana kami disuguhkan dengan aneka macam ornamen yang berwarna perak. Juga terlihat beberapa lelaki yang sedang mengerjakan ukiran perhiasan perak mulai dari awal hingga selesai.

Kerajinan perak dan lorong yang menjual kuliner dan pernak pernik

Bagi yang doyan kuliner, disepanjang jalan keluar telah berjajar kios-kios yang menyediakan kuliner khas mereka seperti buah nanas segar, aneka abon dan dendeng dari berbagai macam bahan, kue semprong dari  kelapa dan banyak lagi. Juga bagi yang mau membeli tas dan pernak pernik seperti gelang, kalung anting juga tersedia disini.

Acara hari ke 3 udah berakhir dan kami semua harus menuju kota Lingshui untuk bermalam di RoEasy Hospitality Hotel (Bintang 5). Gila juga nih hotel, bentuknya seperti semacam resort dengan kolam renang ditengahnya. Mayan nih bagi yang mau mendinginkan tubuh, tapi karena hawa yang sangat panas sampai malam pun air dikolam renang masih hangat.

RoEasy Hospitality Hotel Lingshui 5 Stars

Bagi yang pengen punya pengalaman seperti saya ikut tour Harga Kaki Lima Rasa Bintang Lima bisa hubungi saya WA 0812.350.9232 dijamin bakal ngga nyesel deh.

Bersambung …………………..

Jangan lupa follow Instagram saya ya

Sisa-sisa badai di Dadong Beach masih terlihat cukup jelas. Dadong beach ini masih lebih bagus daripada Yalong Beach, karena bentuk garis pantainya yang melengkung seperti teluk sehingga tampak ujung garis pantainya dikejauhan.. Di Dadong Beach juga lebih banyak cafe disekitaran pantai. Kalo ke sini jangan lupa bisa coba minuman unik, yaitu kelapa muda yang dah dikeluarkan airnya kemudian diisi oleh puding dan jelly, harganya 35 yuan Mau ke Hainan juga? Buka www.rodadanroti.com dan baca caranya supaya bisa murah. The story please visit www.rodadanroti.com #photooftheday #tourmurah #travelagent #tourhainan #chinatour #travelercantik #vacation #travel #traveling #travelgram #igtravel #ig_travel #beautifulplace #ayodolan #jalanjalan #pejalancantik #liburanmurah #instatravel #bestplacetogo #bestplace #nanshan #reviewhotel #beach #traveltheworld #arroundtheworld #travelblog #travelblogger #bestvacation #beautifuldestinations #instavacation

A post shared by Roda dan Roti Travel Blog (@rodadanroti) on

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s